Rabu, 20 Februari 2013

4 Golongan Lelaki Yang Akan Ditarik Wanita Ke Neraka

Assalamu'alaikum. Wr. Wb. Kaum muslimin yang di rahmati Allah Swt, di sini saya akan menulis sedikit tentang 4 golongan laki-laki yang akan di tarik wanita ke neraka.
Sebelum kalian beranjak pergi bacalah, mungkin ini bisa menjadi renungan bagi kaum laki-laki dalam mendidik seorang perempuan dalam rumah tangga. Diantara Orang yang akan ditarik wanita ke neraka adalah sebagai berikut:

1. Ayahnya Jika seorang lelaki yang telah menyandang gelar ayah namun ia tidak mempedulikan anak perempuannya. Tidak peduli dia sholat atau tidak! Tak peduli dia bisa ngaji atau tidak. Tidak peduli dia menutup aurat atau tidak. Tidak peduli mau belajar agama atau tidak. Namun, hanya mementingkan kepentingan dunia saja, tidak memikirkan masa depannya di akhirat. Ini tidak cukup, jika hanya mementingkan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya

2. Suaminya Apabila seorang suami tidak memikirkan tingkah laku seorang istrinya. Bergaul bebas. Berdandan kepada yang bukan mahramnya. Menyebar gosip dan fitnah. Jika suami mendiamkan hal seperti ini. Walaupun dia seorang yg alim. sholatnya aktif, puasanya jauh dari lalai. Zakat tak pernah bolong. Maka dia akan di tarik bersama istrinya ke dalam Neraka.

3. Saudara Lelakinya Apabila ayahnya sudah meninggal, maka tanggung jawab kehormatan dibebankan kepada saudara laki- lakinya (kakak, paman). Jika dia hanya mementingkan keluarganya saja, sedangkan adik atau keponakannya dibiarkan jauh dari ajaran Islam, Jauh dari Allah. Maka silahkan menunggu tarikan mereka kelak di akhirat.

4. Anak Lelakinya Apabila seorang anak lelaki membiarkan Ibunya melakukan kesalahan. Membiarkan ibunya melakukan perbuatan yang membuat murka Allah, membiarkan ibunya melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Menyebar fitnah, menggunjing, mengumpat. Maka dia akan ditanyai dan di minta pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Dan dia akan menemani ibunya di Neraka

Selasa, 19 Februari 2013

CEO merangkap MERBOT Mushola

Namanya Guntur. Karirnya cemerlang. Di usianya yang baru 30 tahun sudah dipercaya untuk menjabat sebagai CEO di sebuah perusahaan besar yang kelasnya sudah internasional. Tidak perlu diceritakan bagaimana kisah perjalanan karirnya ataupun tentang perusahaannya, itu tidak penting. Namun ada kisah menarik dari aktivitas yang dijalaninya sehari-hari yang penting untuk diceritakan disini, karena mungkin aktivitasnya ini akan dipandang aneh dan nyeleneh untuk ukuran jaman sekarang. Selain menjalankan tugasnya sebagai CEO di perusahaannya, dia juga menjalani profesi sebagai MERBOT (tukang bersih mushola). Hah….!!! gak salah dengar nih? merbot?? tukang pel lantai, kamar mandi, tempat wudhu, di mushola? iya…!! ciyuss..!!?? ciyusss…!!!! (kenapa jadi ngalay gini yah…hahahahah)….yuk kita ikuti kisahnya, walaupun kisah ini fiktif, tapi bisa dijadikan cerminan dan ibrah buat kita semua….bismillahirrohmanirrohim

Memang dari sejak masih SMA, si Guntur ini sudah rutin menjalankan amalan harian, diantaranya tahajud, dhuha, puasa daud, baca 4 surah (yasin, ar rohman, al waqiah, al mulk), tdk pernah ketinggalan jamaah di masjid. Inilah rupanya yang mengantarkan segala kemudahan dan kelancaran setiap ikhtiar yang dia lakukan. Ketika dewan komisaris perusahaan dan RUPS memutuskan memilihnya sebagai CEO baru menggantikan CEO lama yang dianggap gagal mendongkrak performa perusahaan, hal pertama yang dia lakukan adalah membongkar mushola perusahaan yang ada di basement dan membangunnya kembali di lokasi disamping gedung head office perusahaan, namun kali ini bukan mushola lagi yang dibangun, tapi masjid yang dibangun. Awalnya banyak pertanyaan dan kritik yang datang kepadanya, kenapa yang dilakukan pertama kali kok malah ngurusin mushola? apa hubungannya dengan kinerja perusahaan? apakah dengan membangun masjid akan memberikan kontribusi lebih kepada perusahaan? semua pertanyaan dan kritik dia terima dengan senyuman, dan semuanya dia jawab dengan satu kalimat yang singkat, padat, jelas, dan berlandaskan tauhid. Apa jawabnnya? "Untuk meningkatkan performa perusahaan ini, LIBATKAN ALLOH DI DALAMNYA". Dalam analisanya, sudah lama perusahaan ini tidak ada berkahnya sama sekali dari Alloh SWT. Tauhid menjadi barang yang asing. Alloh di nomor dua-kan dari setiap urusan. Bahkan istananya hanya dalam bentuk mushola yang diletakkan di lantai basement paling bawah dan lokasinya di pojok. Kondisi mushola jauh lebih memprihatinkan daripada toilet-toilet di gedung Head Office. Pantas saja kalau akhirnya ridho Alloh tidak pernah sampai disetiap ikhtiar yang dilakukan perusahaan ini.

Dengan berdirinya masjid di perusahaannya, perlahan-lahan jalan terang itu datang. Alloh selalu hadir dalam setiap ikhtiar dan urusan untuk memberikan ridho-Nya. Ada saja jalan yang diberikan oleh-Nya untuk memudahkan setiap urusan dan masalah yang dihadapi perusahaan yang dipimpin Guntur ini. Suasana kerja dan lingkungan kerja yang semakin nyaman menjadikan kinerja karyawan semakin meningkat. Ide-ide kreatif bermunculan dari mereka. Sholat berjamaah di masjid perusahaan sudah menjadi kebiasaan bagi seluruh karyawannya. Aktifitas pekerjaan otomatis langsung terhenti begitu terdengar adzan dari masjid. Kepercayaan karyawan terhadap pimpinan terbangun dengan sendirinya dengan seringnya si Guntur ini selalu menjadi imam sholat berjamaah. Memang janji Alloh tidak pernah meleset, siapa yang mengutamakan Alloh dari segala urusan, maka Alloh akan mempermudah segala urusannya.

Untuk mengurusi segala operasional masjid, dibentuklah pengurus masjid yang dibentuk dari karyawan perusahaan itu sendiri. Tapi khusus untuk masalah kebersihan, sudah menjadi tanggung jawab dari satu orang, Mang Asep, karyawan bagian umum. Mushola yang dulu pun dia yang mengurusi masalah kebersihannya. Mang Asep ini juga rada aneh dan nyeleneh, sebenarnya orangnya pintar dan cerdas, pendidikannya pun cukup tinggi, D3 Akuntansi. Entah bagaimana dulu ceritanya kok dia bisa menjadi karyawan di bagian umum. Beberapa kali ditawari promosi untuk menjadi staf dibagian keuangan namun dia menolaknya. Sampai akhirnya berita ini pun sampai ke telinga Guntur. Ketika melihat profil CV dan pendidikannya, menurutnya Mang Asep tidak cocok bekerja di bagian umum, teramat sayang dengan kemampuan dan pendidikannya di bidang akuntansi kalau sampai tidak diberdayakan di bagian keuangan, dan kebetulan juga memang ada posisi yang kosong di sana. Dan Guntur pun turun tangan dengan mendatangi Mang Asep di masjid. Seperti biasa ketika ditemui, si Mang Asep ini sedang menggosok lantai tempat wudhu. Begitu melihat Guntur datang, dia langsung berdiri.

A: "Mau sholat dhuha, Pak?"
G: "Alhamdulillah sudah Mang tadi pagi bersama-sama karyawan. Mang Asep masih sibuk yah?"
A: "Ah tidak kok Pak, hanya menggosok lantai ini saja, ini juga sudah mau selesai. Apa Bapak mau menyuruh saya?"
G: "Oh bukan Mang, saya cuman mau bicara sebentar sama Mang Asep"
A: "Ada apa ya Pak? saya salah apa Pak?"
G: "Tenang Mang Asep…tenang….hehehe…tidak ada yang salah dengan Mang Asep. Saya hanya ingin ngobrol-ngobrol saja kok, santai saja. Begini Mang Asep, Mang Asep ini lulusan D3 Akuntansi ya?"
A: "iya Pak"
G: "Kenapa bisa bekerja dibagian umum?"
A: "Dulunya memang saya sempat melamarnya untuk bagian keuangan, tapi waktu itu lowongan yang tersedia hanya di bagian umum saja. Karena saya memang butuh sekali pekerjaan, mau tidak mau ya saya terima. Eh…ternyata saya malah menikmati pekerjaan ini. Apalagi setelah saya diberi tanggung jawab mengurus kebersihan mushola dan sekarang malah mengurusi kebersihan masjid."
G: "Tapi kan gajinya kecil Mang? kalau Mang Asep kerja di bagian yang sesuai dengan jenjang pendidikan Mang Asep, kan gajinya lebih besar. Begini Mang Asep, saya mau Mang Asep menerima promosi jadi staf dibagian keuangan. Saya butuh tenaga Mang Asep disana"
A: "Aduh Pak, mohon maaf sekali Pak. Saya lebih baik disini saja. Kalau saya dipindah, siapa yang mengurus kebersihan masjid ini?"
G: "Kan bisa diganti dengan karyawan bagian umum yang lain"
A: "Jangan Pak, saya tidak mau kehormatan mengurus rumah Alloh ini jatuh ke tangan orang lain. Bagi saya ini adalah ladang amal buat saya dan keluarga saya Pak. Meskipun gaji saya kecil, tapi alhamdulillah Alloh selalu mencukupi kebutuhan saya dan keluarga saya. Tolong Pak, jangan pindah saya"
G: "Baiklah. Begini saja Mang Asep. Mang Asep tetap harus terima promosi menjadi staf di bagian keuangan sekaligus Mang Asep juga tetap mengurus kebersihan masjid ini. Apakah Mang Asep sanggup mengerjakan dua tugas sekaligus?"
A: "Alhamdulillah…terima kasih Pak. Insyaalloh saya sanggup mengerjakannya.."

Maka jadilah saat itu Mang Asep menjadi staf di bagian keuangan sekaligus tetap mengurusi kebersihan masjid. Dan memang benar, ternyata Mang Asep mampu membagi 2 tugas tersebut. Hanya untuk kali ini dia datangnya lebih pagi dan pulangnya lebih malam. Dan itu dia lakukan dengan senang hati dan tetap profesional. Masing-masing tugas mampu dikerjakannya dengan dengan hasil yang memuaskan. Namun suatu ketika, beban pekerjaan di bagian keuangan sedang tinggi-tingginya, jadinya urusan kebersihan di masjid menjadi agak terbengkalai. Suatu ketika, saat akan menjalankan sholat dhuha, Guntur menjumpai lantai masjid yang masih kotor dan ada bercak telapak kaki disana-sini. Sesaat dia berpikir, tumben masjid dalam keadaan kurang bersih, kemana gerangan Mang Asep. Namun dia langsung ingat bahwa di bagian keuangan sedang sibuk-sibuknya, beban pekerjaan sangat tinggi di minggu-minggu ini. Dia memaklumi jika Mang Asep agak terlambat mengurusi kebersihan masjid. Tanpa berpikir panjang, dia lipat lengan bajunya dan celananya, kemudian ambil sapu dan mulai menyapu. Dilanjutkan dengan mengepel lantainya. Kejadian ini dilihat oleh salah seorang security. Hari pun berlalu. Dan masa-masa beban pekerjaan yang tinggi di bagian keuangan telah berlalu. Situasi kembali normal. Dengan demikian Mang Asep dapat menjalankan kembali pekerjaannya membersihkan masjid dengan normal. Namun kali ini hampir pekerjaannya telah selesai. Lantai sudah bersih, kamar mandi sudah bersih, tempat wudhu sudah bersih. Dia mulai bertanya-tanya siapa yang membersihkannya? dan kapan dibersihkannya? dari security akhirnya dia tahu bahwa yang telah membantu pekerjaan dia di masjid adalah Guntur, atasannya sendiri, CEO di perusahaan tempat dia bekerja. Rupanya si Guntur ini datang lebih pagi dari biasanya, bahkan sebelum karyawan yang lain datang hanya untuk membersihkan masjid. Mang Asep menjadi sedih, dia merasa ladang amalnya "dirampas" oleh atasannya sendiri. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin dia langsung memprotes ke Guntur. Apa jabatannya sehingga berani memprotes CEO. Kegalauannya ini dia tumpahkan diatas sajadah ketika dia melakukan sholat sunnah di masjid. Waktu sudah malam dan seluruh karyawan yang lembur sudah pulang, hanya security yang bertugas jaga malam yang ada di pos dan sisanya patroli di sekitar gedung. Dengan khusu' Mang Asep ini bermunajat kepada Alloh, dia tumpahkan semua keluh kesahnya. Bagaimana dia menyesal hingga pernah lalai membersihkan rumah-Nya sehingga menurut Mang Asep ini, akhirnya Alloh mencabut amanah tersebut dan diberikan kepada atasannya sendiri. Dia memohon dengan sangat agar amanah itu dikembalikan lagi padanya, bahkan dia ikhlas jika harus melepas jabatan koordinator finance (rupanya karena prestasinya, karirnya cepat sekali menanjak) dan kembali ke bagian umum asalkan amanah kebersihan masjid itu dikembalikan lagi kepadanya. Baginya, apalah artinya jabatan tinggi, gaji tinggi, jika akhirnya harus kehilangan kehormatan mengurus kebersihan rumah Alloh. Tanpa dia sadari, munajatnya ini terdengar oleh orang yang selama ini dia anggap telah "merampas" ladang amalnya. Rupanya Guntur pun baru akan pulang, dan dia menyempatkan sholat sunnah witir dulu di masjid. Guntur tertegun dalam duduknya, dia terharu, dia mengerti sekarang kenapa sebelumnya Mang Asep selalu menolak dipromosikan. Dia sendiri merasakan sensasi perasaan yang berbeda ketika selama beberapa hari mengerjakan pekerjaan "sampingan" membersihkan masjid. Ada rasa adem, tenang, dan dia merasa segala urusan dan hajatnya menjadi lebih lancar dari biasanya. Dia juga merasakan Alloh senantiasa lebih sering melindunginya dari jebakan-jebakan kompetitor bisnisnya. Persaingan bisnis diluar sana memang kejam. Orang rela melakukan segala cara yang tidak baik demi menjadi pemenang.

Guntur pun beranjak dari masjid dengan perlahan-lahan agar jangan sampai Mang Asep tahu dia ada dibelakangnya. Besok pagi dia datang seperti biasa, tidak lagi datang lebih pagi. Ketika melewati masjid, dia melihat Mang Asep sudah kembali membersihkan masjid dengan semangat dan keceriaan yang lebih dari biasanya. Guntur tersenyum melihatnya. Tiba diruangan kantornya, dia berpikir bagaimana caranya supaya dia juga bisa mendapatkan kehormatan membersihkan rumah Alloh. Apakah dia harus membangun masjid baru lagi di lingkungan perusahaannya? ah ini konyol namanya, yang ada malah mubadzir, jamaah masjid akan terpecah. Dia berdo'a, memohon kepada Alloh agar diberikan kesempatan untuk membersihkan rumah-Nya yang lain. Dan rupanya tidak perlu menunggu lama buat si Guntur ini mendapatkan jawabannya. Tidak jauh dari perusahaannya, ada sebuah mushola kecil di pinggir jalan yang biasa disebut mushola transit, untuk orang-orang diperjalanan yang ingin menunaikan sholat ketika waktunya sudah masuk untuk sholat. Dia lihat mushola ini sepertinya tidak ada yang mengurus. Ketika meluangkan waktunya untuk mampir ke mushola ini, dia bertanya kepada tukang becak yang mangkal tidak jauh dari mushola ini. Ditanyakanlah siapa yang mengurus mushola ini. Matanya berbinar begitu tahu jika ternyata mushola ini sebenarnya tidak ada pengurusnya, yang membersihkan ya orang-orang yang menyempatkan sholat di mushola ini ketika sudah masuk waktu sholat. Maka jadilah hari itu dia yang menjadi pengurus mushola ini alias jadi MERBOT di mushola ini. Datang lebih pagi, dia turun di depan mushola ini, sementara sopirnya disuruh jalan lebih dulu ke kantornya. Dia ganti pakaiannya dengan pakaian biasa dan mulai aktifitasnya membersihkan mushola. Selesai membersihkan mushola, dia ganti bajunya lagi dengan baju kerjanya dan berangkat menuju kantornya dengan jalan kaki. Tidak jauh letak mushola ini dengan kantor perusahaannya. Pulang kantor pun masih dia sempatkan ke mushola ini untuk membersihkannya kembali. Aktifitas ini rutin dia lakukan. Hingga akhirnya berita tentang profesi "sampingan" si Guntur ini sampai juga ke telinga para relasi bisnisnya, sebagian kagum dengannya, tapi lebih banyak yang mencibir dan menganggap pekerjaan yang sia-sia dan tidak pantas dilakukan untuk seorang CEO sebuah perusahaan internasional. Tapi sungguh, sebenarnya nama Guntur ini harum dan sangat terkenal di penduduk langit. Semoga tetap istiqomah dan dijauhkan dari amalan riya' dan sum'ah.

Catatan blog
seri "PROFESI-PROFESI TAUHID" 
Cak Toro
Bekasi, 17 Januari 2013 

DOKTER TAUHID

Profesi dokter adalah profesi yang mulia. Dia banyak membantu orang. Banyak ladang amal disana. Akan tetapi jika tidak berhati-hati akan menjerumuskannya dalam dosa besar. Tidak hanya dirinya sendiri yang terjerumus, melainkan orang lain pun juga akan ikut terjerumus. Para pasiennya, keluarga pasien, teman pasien, orang-orang terdekat pasien, bahkan dalam lingkup yang lebih luas sekalipun: masyarakat sekitar rumah dokter dan pasien itu sendiri.

(O) Wah berat nih pembahasannya, ngelantur kemana-mana. Hati-hati kalau nulis, bisa dituntut para dokter karena dianggap mendiskreditkan profesi mereka.
(X) Bismillahirrohmanirohim….insyaalloh tidak. Justru ini akan menyelamatkan akidah semuanya.

Lalu bagaimana profesi dokter bisa menjerumuskan ke dalam dosa besar? Untuk memudahkan memahaminya, kita baca ilustrasi cerita dibawah ini.

"Sebut saja namanya dokter Tina. Dia dokter umum yang buka praktik dirumahnya. Setiap hari tempat praktiknya tidak pernah sepi dari pasien. Banyak dari pasien yang merasa cocok ditangani oleh dokter Tina. Para pasien yang sembuh dari sakitnya setelah ditangani oleh dokter Tina, secara sukarela menjadi iklan berjalan. Bercerita kepada keluarganya, teman-temannya, tetangganya, bahwa ada dokter hebat yang bisa menyembuhkan penyakit. Setiap ada yang sakit, selalu direkomendasikan untuk berobat ke tempat praktik dokter Tina. Karena semakin banyak pasien yang percaya berobat kepadanya, dokter Tina semakin percaya diri. Dia merasa bahwa keahlian diagnosa dan kemampuan memberikan obat / terapi yang tepat telah membantu banyak orang. Mulai timbul bangga akan kehebatan dirinya".

Sampai disini tidak ada yang salah dengan ilustrasi cerita diatas ya? semuanya tampak wajar saja. Dimana letak terjerumus ke dalam dosa besarnya? Justru banyak amal kebaikan disana. Walaupun tidak diceritakan apakah dokter Tina menerima pasien dari semua kalangan? (baik kaya atau miskin) Apakah untuk pasien yang miskin diberikan pengobatan cuma-cuma. Katakanlah iya, tetap saja masih ada dosa besarnya.

(O) Bingung nih jadinya
(X) hehehehe….bingung ya? pegangan aja biar tidak jatuh :D
(O) yeeee…….serius ini beneran bingung
(X) ok, dilanjut ntar ya, sudah mau adzan dzuhur nih, mau buruan ke masjid biar tidak ketinggalan sholat berjamaah. 
(O) ok….sippp!
.
.
.
.
(X) alhamdulillah…lanjuttt
(O) lama bener sih, kita-kita nungguin sampai jamuran nih
(X) iya maaf, tadi abis ba'diyah ngelanjutin dikit nyicil baca Qur'an, udah janji sama Alloh buat qatamin.
(O) ok deh….lanjutttt

Kenapa masih ada dosa besarnya? dan dosa besar yang mana? Syirik!
Lho, syirik itu kan menyembah selain Alloh? lalu dimana letak syiriknya di cerita dokter Tina tadi? Syirik itu ada dua macam, syirik yang terang-terangan contohnya menyembah berhala, menganggap diri sendiri Tuhan seperti firaun. Dan Syirik yang halus, yaitu menganggap suatu benda punya kekuatan, menganggap keberhasilan seseorang itu karena memakai baju ini, memakai cincin anu, dll.
Nah sekarang mari kita analisa di cerita dokter Tina tadi. Sesungguhnya siapa yang mendatangkan sakit? siapa pula yang mendatangkan kesembuhan? ini pertanyaan orang-orang beriman. Jawaban orang beriman tentulah Alloh Yang Maha Kuasa. Para pasien tadi menganggap bahwa yang menyembuhkan sakit mereka adalah karena berobat ke dokter Tina, karena obat yang diberikan oleh dokter Tina. Secara tidak sadar para pasien sudah menuhankan dokter Tina dan obatnya. Kemudian dokter Tina pun juga merasa bahwa keahlian dan terapinyalah sehingga penyakit pasiennya sembuh. Secara tidak sadar juga sudah menuhankan dirinya sendiri. Padahal sejatinya jika bukan karena kehendak Alloh, apakah bisa sembuh? jika bukan karena izin Alloh, apakah obat itu bisa menyembuhkan? Jadilah semuanya terjerumus ke dalam kemusyrikan. Dan dokter Tina yang menanggung dosa paling besar, karena dialah yang menjadi penyebabnya dan dia tidak mencegahnya, malahan dia akhirnya ikut terjerumus juga dengan menuhankan dirinya. Maka makin berlipat-lipatlah dosa besarnya.

(O) hmmm….tapi itulah yang umum terjadi sekarang ini
(X) ya memang….prihatin sekali. Mendekati akhir jaman, manusia makin tidak kenal siapa Tuhannya, kembali ke jaman jahiliyah.
(O) lalu seharusnya bagaimana dokter Tina bersikap agar tidak terjerumus ke dalam kemusyrikan?
(X) awali dengan doa, awali dengan basmalah

Supaya selamat dari terjerumus ke dalam kemusyrikan, seharusnya ketika pertama kali menerima pasien, sebelum memulai diagnosanya, dokter Tina menjelaskan bahwa sesungguhnya sakit itu datangnya dari Alloh dan obatnya (kesembuhannya) datangnya dari Alloh juga. Dirinya hanyalah sebagai perantara kesembuhan dari Alloh. Pasien itu datang kepadanya bukan mencari kesembuhan darinya. Kemudian agar ikhtiar si pasien mencari kesembuhan dan juga ikhtiar dokter Tina dalam membantu memberikan pengobatan diridhoi Alloh, berdua mereka awali dengan berdo'a. Termasuk keluarga, teman, kerabat si pasien yang ikut mengantar juga diajak berdo'a. Dengan diawali do'a, terhindarlah dari praktik kemusyrikan. Bahkan perjalanan ikhtiar tersebut menjadi ibadah diantara mereka. Terakhir ketika selesai proses pemeriksaan dan pengobatannya, bersama-sama mengucap syukur dan hamdalah, semoga Alloh berkenan dan ridho dengan ikhtiar yang baru saja dilakukan.

(O) cakep nih……:)


Catatan blog
seri "PROFESI-PROFESI TAUHID" 
Cak Toro
Bekasi, 16 Januari 2013

Lanjutan…(Hukum Pareto dalam Tauhid)

kemarin teorinya, sekarang gimana mempraktekannya? gampang bro, segampang beli tiwul…hehehehe :D. Supaya lebih enak dipahami, kita pakai contoh kasus saja.
Mas Sentot baru saja di PHK. Nyoba nyari kerja lagi kemana-mana gak dapat-dapat. Sudah hampir setahun (semenjak dari dia di PHK)  nih dia nganggur. Makin bingung bin stress karena ada anak dan istri yang harus dinafkahi. Selama ini nafkahnya dari tabungan dan uang pesangon yang didapat. Sekarang tabungan itu sudah menipis, hanya cukup utk 1 bulan kedepan saja. Mulai mikir dia, "apa ya yang belum saya lakukan, usaha cari kerja sudah pol-polan nih". Suatu ketika dlm khutbah jum'at di masjid kampungnya, khatib memberikan ceramah tentang pentingnya do'a disamping usaha. Dijelaskan juga bahwa sebelum memulai segala sesuatu, awali dengan do'a, supaya selain dimudahkan hajatnya, juga dalam perjalanan usaha tersebut bernilai ibadah. Dari ceramah tersebut, Mas Sentot mulai menyadari kekeliruannya selama ini. Selesai sholat jum'at, Mas Sentot tidak beranjak pulang, rupanya dia menunggu sang khatib jum'at tadi. Dia mau tanya lebih dalam lagi.
Hari berikutnya Mas Sentot memulai riyadohnya 7hari pertama sholat dhuha 8 rokaat dilanjut baca Ar rahman - Al Waqiah - Al Mulk - Yasin, 5 waktu berjamaah dimasjid, tdk pernah ketinggalan juga sunnah qobliyah badiyahnya juga, diantara waktu adzan dan iqomah tdk pernah lupa dia panjatkan do'a (waktu paling mustajab utk do'a), malam hari bangun jam 02:30-mandi & gosok gigi-kemudian sholat tahajud 8 rokaat + witir 3 rokaat, tak lupa panjatkan do'a dan ditutup dengan dzikir sholawat-tasbih-tahmid-takbir sampai masuk waktu subuh, pulang dari sholat subuh berjamaah di masjid masih dilanjutkan baca Al Qur'an 2 lembar (Mas Sentot berniat mengkhatamkan Al Qur'an). Setiap hari jum'at dia berikan sedekah terbaiknya dan datang ke Masjid lebih awal utk baca surat Al Kahfi sampai masuk waktu sholat. 7 hari pertama terlewati, 7 hari ke dua terlewati, hingga tidak terasa 100 hari sudah dia membiasakan amalan-amalan ibadah tersebut. Berubahkah nasibnya? belum!!! masih sama, nganggur. Biasanya dititik ini setan mulai menggoda, berusaha menggoyahkan iman kita…waspadalah…waspadalah….ciyus ini :)
Setan mulai berbisik di hati Mas Sentot, "hahahaha…kasian deh loe, diboongin ma tuh ustadz, mana janjinya yg katanya kalau udah melakukan semua amalan ibadah bisa merubah nasib. Yg loe dapat cuman capek doang kan? ini sudah 100 hari bos, sudah lebih dari yang dijanjikan oleh tuh ustadz. Udah brenti aja, daripada ntar makin kecewa loh…" begitulah kira-kira bisikan setan. Ngeri kan? lebih ngeri dari suster ngesot atau setan pocong keramas (pocong yang dikeramasin apanya ya? *mikir). Disinilah titik kritisnya. Kalau sudah seperti ini, sikap baik sangka pada Alloh adalah yang paling tepat dan sangat membantu agar jangan sampai "mutung". Alhamdulillah, Mas Sentot ini orangnya baekkk, sabar, rajin menabung, dan tidak sombong….hehehe. Sisi baik Mas Sentot rupanya masih terlalu dominan untuk bisa dipatahkan oleh si setan keramas tadi. "ora jeh, sing njanjeni kuwi Gusti Alloh, not ustadz, i yakinlah klo janji Alloh tidak pernah meleset, emangnya loe yg klo janji suka meleset. Buktinya tuh, gara-gara suka meleset jadinya kepleset kan hingga akhirnya loe jalannya ngesot" (ni sisi baiknya Mas Sentot yang ngomong loh, bukan saya yang nulis…*piss). Mas Sentot tidak menyerah. Dia lanjut lagi riyadohnya, bahkan kali ini makin di tambah lagi amalan ibadahnya, puasa sunnah daud. Karena do'a orang yang sedang berpuasa itu juga mustajab dan Mas Sentot ingin setiap hari mendapatkan moment ini, tapi karena Alloh dan Rasul-Nya tidak mengijinkan manusia berpuasa setiap hari, maka dipilihlah puasa sunnah daud. Disamping itu juga dengan puasa daud dia bisa menghemat pengeluaran juga utk makan. Hari ke 120 riyadohnya, ketika ditengah-tengah baca surat Ar Rahman setelah sholat dhuha, dia tertegun pada ayat yang diulang-ulang sebanyak 31 kali dalam surat itu -"Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan"-. Dia baru nyadar, tabungannya kan cuman cukup untuk nafkah satu bulan? lha ini kan sudah masuk di hari ke 120 dari riyadohnya alias sudah lebih dari 1 bulan (4 bulan), KOK BISA CUKUP YA UANG TABUNGANNYA??!!! BAHKAN MASIH ADA SISA LOH DI TABUNGANNYA!!! subhanalloh…..langsung sujud syukur dan menangis dia sejadi-jadinya karena hampir saja dia putus asa dengan riyadohnya. Inilah yang dinamakan "KEBERKAHAN" -yang sedikit bisa mencukupi-. Detik itu juga Mas Sentot mulai meyakini 1000% bahwa do'anya selama ini mulai ada tanda-tanda akan dikabulkan oleh Alloh. Dan memang benar Alloh sedang membuatkan skenario hebat untuknya pada hari itu. Seperti biasa, Mas Sentot tidak pernah melewatkan waktu paling mustajad antara adzan dan iqomah utk panjatkan do'a. Saking semangatnya bahwa detik-detik hajatnya akan segera terkabul, do'anya menjadi agak sedikit keras, sehingga terdengar oleh orang dibelakangnya yang juga sedang berdo'a. Mas Sentot berdo'a pada Alloh agar diberikan pekerjaan, nah orang yang dibelakang ini juga berdo'a agar diberikan karyawan yang jujur dan amanah untuk mengelola salah satu bidang usahanya yang hampir kolaps akibat korupsi yang parah dari para karyawannya. Skenario Alloh nih, kedua orang ini dipertemukan di tempat yang sama dan waktu yang sama, dan Alloh menjadikan diantara mereka saling mendengar do'a yang dipanjatkan kepada-Nya. Selesai berdo'a, Mas Sentot noleh kebelakang, dan orang yang dibelakangnya juga melihatnya…..cie…cie…cie..cie (hush…! bukan berpandangan khas kaumnya olga nih). Lagi-lagi skenario Alloh nih. Kemudian Iqomah dikumandangkan tanda sholat dzuhur akan segera dimulai. Alloh bikin masih ada shaff kosong di sebelah Mas Sentot, dan majulah orang yang dibelakang Mas Sentot tadi. Sholat dzuhur selesai. Orang tadi menyapa Mas Sentot dan langsung "tembak", "saya butuh orang untuk mengelola usaha bengkel mobil saya. Tadi saya dengar anda sedang butuh pekerjaan. Jika anda mau, bersediakah anda mengelola bengkel saya?" Wah cocok banget, Mas Sentot kan sebelumnya kerja dibagian produksi perakitan mobil (Ah ini sih bisa-bisanya yg nulis nih biar dicocok-cocokin gitu…..hehehe biarin, namanya juga cerita, ya terserah ane mau nulisnya gimana, yang penting pesannya nyampe). Singkat cerita, biar tidak terlalu panjang, soalnya sudah mau nyampe jogja nih (ane ketiknya lagi di kereta). Alhamdulillah Mas Sentot akhirnya mendapatkan pekerjaan juga. Lalu bagaimana dengan riyadohnya? apakah dia stop? toh hajatnya sudah terkabul kan? Disini juga nih banyak yang gak lulus. Begitu hajatnya tercapai, mulai kendor dah amalan ibadahnya, dan akhirnya? ya tersungkur lagi….cape deh. Ini yang dinamakan kufur nikmat bro. Justru harusnya jangan ditinggalkan, kalau bisa malah makin ditingkatkan sebagai bentuk tanda syukur akan nikmat yang sudah diberikan. Alloh akan menambah nikmat-Nya jika kita pandai bersyukur.

Udah deh pokoknya Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus. Mau jadi pengusaha tapi gak tahu caranya, sholat sunnah 2 rokaat, laporan sama Alloh, "Ya Alloh, pengen jadi pengusaha nih, tapi saya tidak tahu caranya. kasih tahu dong saya supaya bisa jadi pengusaha. Jadi pengusaha yang ada untungnya ya, bukan cuman pengusaha thok tapi tidak ada untungnya. Supaya saya bisa mempekerjakan banyak orang yang butuh kerjaan, supaya saya bisa ngajak sebanyak-banyak orang utk masuk surga-Mu, supaya saya bisa memberangkatkan Haji kedua orang tua saya". Setelah itu jalani hidup seperti biasanya, jaga silaturahim, pergi ke toko buku baca buku2 wirausaha, datang ke pameran-pameran UKM. Kemudian ke Alloh lagi, laporan lagi di sholat malamnya, "Ya Alloh, saya sudah ke toko buku baca banyak buku tentang wirausaha, datang ke pameran-pameran UKM nanya2 disana, tapi saya masih belum tahu juga nih caranya bagaimana memulainya. Plis deh Ya Alloh, tunjukin saya caranya". Lakukan terus seperti itu, jangan sampai lepas dari Alloh. Alloh yang punya semua perusahaan di dunia ini. Pada saatnya nanti pasti Alloh akan tunjukkan caranya dengan cara yang diluar perkiraan kita. Selama dalam proses menunggu itu, do'a juga pada-Nya minta diberikan kesabaran dan senantiasa baik sangka pada-Nya.

Hukum Pareto dalam Tauhid

Yang mempelajari ekonomi manajemen pasti mengenal hukum pareto, yaitu komposisi 20% : 80%, dimana yang 20% itulah yang memberikan kontribusi 80% (untuk lebih detailnya silahkan cari di mbah google tentang hukum pareto ini). Lalu apa hubungannya dengan Tauhid ya? begini bro….hehehee (selalu ada embel-embel "hehehehe" ----> supaya santai tapi tetap serius). Ok begini. Selama ini kita sudah mengenal yang namanya faktor "X" dalam sebuah usaha atau pekerjaan yang kita lakukan. Kalau ingin usaha atau pekerjaan beres, maka rumusnya adalah 99% usaha + 1% faktor "X". Ada yang menyebut faktor "X" itu adalah keberuntungan, nasib baik, takdir, Alloh SWT.

Kalau faktor "X" itu adalah keberuntungan, tidak semua orang mempunyai keberuntungan yang sama. Kasian dong yang tidak pernah beruntung.
Kalau faktor "X" itu adalah nasib baik, sama saja dengan keberuntungan
Kalau faktor "X" itu adalah takdir, gak ada gunanya dong usaha, wong sudah ada takdirnya hasilnya begitu
Kalau faktor "X" itu adalah Tuhan, semua punya Alloh SWT.

1% ini kontribusinya tidak main-main, 99%. Kenapa kok hanya angka "1" dalam prosentase tersebut? karena Alloh itu 1, tidak ada lagi yang lain selain Dia….ahaddun ahad…Dia yg Maha Esa. Jadi mana yang didahulukan? 99% dulu atau 1% dulu? rumus sukses itu = 99%(usaha) + 1%(Alloh) atau 1%(Alloh) + 99%(Usaha)? kalau sudah bisa menjawab pertanyaan ini, maka pola pikir yang selama ini kita pakai…..heheheheh…kebalik-belik semua….:)  Selama ini kita pakainya adalah ikhtiar dulu maksimal baru setelah itu do'a kepada Alloh. Nah jawaban tadi yang mana pilihannya? yang 1%(Alloh) + 99%(Usaha) kan….berarti kebalik ya kita selama ini….hehehe :) inilah hubungannya dengan Tauhid. Setiap akan melakukan sesuatu, dahulukan Alloh, laporan ke Alloh dulu, tanya ke Alloh dulu caranya bagaimana? minta izin ke Alloh dulu apakah ini baik buat kita apa tidak?
Punya hajat atau keinginan? sama bro, laporan ke Alloh, memantaskan diri dulu ke Alloh. Alloh dulu dah pokoknya dalam segala urusan.
Secara logika pun lebih masuk akal bro. Kan lebih mudah mencari "1" dulu dari pada mencari yang "99" (yang ada malah capek bro nyari segitu banyaknya, 99 lagi. Belum nyampe 99 udah teler duluan kali….ngerti kan maksud ane?). 

Terus gimana caranya biar yang "1%(Alloh)" ini mau berpihak kepada kita? istiqomahin aja bro ibadahnya…..geber tuh sholat dhuha, sholat tahajud, puasa sunnah, sholat fardhu tepat waktu berjamaan di masjid, sholat qobliyah badiyahnya juga, baca Al Qur'an, sedekah, dzikir (sholawat, tasbih, tahmid, takbir). Lakukan ini secara istiqomah bin terus menerus tanpa putus 7 hari, lanjut ke 21 hari, lanjut ke 40 hari, lanjut ke 100 hari, lanjut selama masih hidup :). Ini yang dinamakan kita memantaskan diri dihadapan Alloh SWT. Sudah pantas apa belum kita dikabulin do'a kita? sudah pantas apa belum kita ditambahin nikmatnya oleh-Nya? Segalanya akan tampak mudah dan bener-bener mudah kalau istiqomah ibadah ini sudah menjadi kebiasaan bagi kita. Rejeki datang dengan sendirinya tanpa kita mencarinya dan datangnya pun dari arah yang tidak pernah kita duga. Selalu ada saja jalan keluar dengan cepat dan mudah dikala kita menemui kesulitan. Keberkahan meliputi hidup kita (yang sedikit mencukupi, yang sedikit mengenyangkan).

Masih gak percaya bro? gak ada salahnya dicoba bro…tapi awas hati-hati ya, dijamin bisa ketagihan ntar….hehehe

Wassalammu'alaikum